Aku adalah air mata yang tertahan di pelupuk binar kesedihan.
Aku telah banyak belajar pada sunyi, bagaimana menyimpan sendiri.
Kebahagiaanku adalah melihat mereka tersenyum, walau sesungguhnya aku ingin seperti mereka.
Kau boleh menerkaku dengan angan-anganmu, tetapi aku tak akan pernah memberitahumu tentangku. Agar ketika aku kecewa aku tak akan pernah menyalahkanmu.
Aku telah banyak belajar pada sunyi, bagaimana menyimpan sendiri.
Kebahagiaanku adalah melihat mereka tersenyum, walau sesungguhnya aku ingin seperti mereka.
Kau boleh menerkaku dengan angan-anganmu, tetapi aku tak akan pernah memberitahumu tentangku. Agar ketika aku kecewa aku tak akan pernah menyalahkanmu.
Ayah mengajarkanku tentang keramahan, kepada siapapun, dan untuk siapapun. Karena itulah aku tak suka berpura-pura. Aku akan menghargai orang yang menghargaiku dan aku akan mencintai orang yang mencintaiku.
Aku suka diperhatikan, tapi aku lebih suka memerhatikan. Bagiku membuat sekelilingku tersenyum lebih dari cukup.
Walau pada akhirnya aku harus kecewa atau bahkan terluka. Diam adalah penolong utamaku, walau pada akhirnya butiran air menetes dalam pipiku.
Walau pada akhirnya aku harus kecewa atau bahkan terluka. Diam adalah penolong utamaku, walau pada akhirnya butiran air menetes dalam pipiku.
Jatuh cinta? Bagiku cinta pertama hanya teruntuk ayah tercintaku. Beliau kini sudah tenang disana.
Sakit Hati? Itu hanya alasan harapan yang tidak menjadi takdir. Aku pernah menaruh rasa tapi sebaliknya rasaku hanya sendiri. Aku tak pernah menuntut seorang untuk mencintaiku, karena bagiku susah membuka hatiku. Tetapi ketika pintu hatiku sudah terbuka, seorang itu hanya mampir saja atau bahkan mendobraknya hingga keras hingga hatiku terluka.
Sakit Hati? Itu hanya alasan harapan yang tidak menjadi takdir. Aku pernah menaruh rasa tapi sebaliknya rasaku hanya sendiri. Aku tak pernah menuntut seorang untuk mencintaiku, karena bagiku susah membuka hatiku. Tetapi ketika pintu hatiku sudah terbuka, seorang itu hanya mampir saja atau bahkan mendobraknya hingga keras hingga hatiku terluka.
Maka aku tak akan pernah menuntut seseorang untuk mencintaku, jikalau seorang itu hanya ingin merusaknya. Karena membangun senyum dipipi bagiku sangat sulit.
Dari bibirku ini semoga kau mengerti
Dari mataku ini semoga kau merasakan, dan aku tak akan menjatuhkan butirannya sekali lagi.
Semoga kau memahaminya.
Dari mataku ini semoga kau merasakan, dan aku tak akan menjatuhkan butirannya sekali lagi.
Semoga kau memahaminya.
- Vidya Elma -
Surakarta, 11 Mei 2016
Surakarta, 11 Mei 2016

Komentar
Posting Komentar