Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Wanita Penunggu Senja

Ruthanaya Sebab cinta selalu datang terlambat Jarak, adalah musuh terberat dari sebuah rindu Kita mungkin mampu melewatinya Tapi kau pernah mati karenanya Wanita penunggu senja Atau aku, Areno yang sekarang menunggumu Aku akan menjemputmu, Rutha.  Walau mungkin kau tak kan pernah kembali Kita adalah sepasang yang dipertemukan oleh senja Dan kau mati karena jarak. Dengarlah, Ruth Ketika senja terbenam di ufuk barat Maka disitulah aku melihatmu dengan bahasa yang tersirat. Vidya - Surakarta, 21 Oktober 2016
Ada Rindu Yang Harus Aku Obati Kita sedang mengalami satu rasa,  Disaat banyak rasa telah terlewat. Kita pernah mendengar banyak cerita Namun, hanya satu cerita yang kita dengar Aku tak akan membicarakan tentang aku ataupun bercerita tentang kamu Sebab pembicaraan ini sudah menjadi milik kita .. Kita mungkin pernah membanggakan masa lalu kita, Tetapi yakinlah rancangan masa depan kita jauh lebih membanggakan .. Berteman rindu dan sepi sudah menjadi hal yang biasa,  Namun sekarang, ada rindu yang harus aku obati Mungkin menurut mereka ini berlebihan Tetapi jika mereka menjadi kita, rasa ini akan sama dirasakannya .. Satu hal yang pasti, takdir ini bukanlah kita yang membuat  Tetapi Tuhan yang telah mendengar doa kita. Surakarta, 24 Januari 2017 (Untuk sahabatku yang sedang jatuh cinta)

Sajak Keabadian

Kali ini kita dipertemukan lagi Bukan sebagai bunga yang memperindah ruangan Tapi sebagai bunga yang memperindah sudut kosong ditengah jiwa yang sudah berada disisiNya. Rasa rindu beradu menjadi satu Bungamu tampak indah diatas gundukan tanah Haru, tangis tumpah menyeruah disekeliling keabadian. Sudah lama aku tak membuat sajak tentangmu Bukan karena aku lupa denganmu, Tapi kegagalan cinta membuatku pilu Maafkan aku ayah. Tetap saja orang yang mencintaiku hanyalah engkau Sajak-sajak ini akan selalu ku tulis  Meski rinduku selalu menahan tangis. Vidya - 090816
Asa Rasa Asa dan rasa bergejolak memeluk kalbu Tinggi asaku tak sesuai rasaku Rasaku sudah tak dapat ditebak Diamku hanyalah isyarat rindu Penawar rasa dari segala gumam Sudah terlalu lama menahan, dan tak mungkin bertahan Asa rasaku akan berhenti Tatkala semua sudah tak serasi Vidya - 080816
Aku tak mencintaimu Kalimat yang selalu ingin ku tuliskan Tapi susah untuk ku ungkapkan Aku tak mencintaimu sejak pertama aku bertemu Atau bahkan berkali-berkali aku melihatmu Rasa itu tetap sama, kosong. ada sisi lain yang membuatku jatuh Jatuh hati, bahkan jatuh cinta Bukan denganmu, melainkan keluargamu Ada hal yang ku temukan dalam keluargamu. Canda, tawa, kehangatan, kasih dan sayang Aku mencintainya. Aku mencintai keluargamu,  Tapi aku tak mencintaimu,  Aku takut kehilanganmu,  Tapi aku tak mencintaimu,  yang ku takutkan hanyalah Aku tak menemukan kehangatan seperti keluargamu.  Ketika kita sudah tak lagi bersama
Barisan Alinea Ribuan kata telah menjadi saksi langkah panjangmu Semakin kau melangkah, semakin berkesan deritamu Tinta hitam dan cucuran tangis selalu menjadi temanmu Tak peduli kau telah berkelana ke ujung duniamu Terkadang muncul kalimat yang terselip begitu lucu Alinea tentang dia, Barisan awal sebagai pembuka rindu kau tersipu malu Bergetar bibirmu melepaskan kalimat-kalimat itu Senyuman manis sesekali kau perlihatkan kepada aleniamu Tak perlu dibicarakan lagi, memang panah asmara sedang jatuh pada hatimu. Vidya Elma - Surakarta, 30-7-2016 barisanalinea.tumblr.com
Kita Adalah Senja Sebelum Malam Lantunan kata yang memikat membuat kita terpikat Ketidaktahuan aku dan kamu menjadikan kita terikat Senyum malu dan mata sendu masih terlihat Tatkala aku dan kamu belum terlalu dekat Mungkin kita terlalu cepat  atau kau terlalu hebat Apa yang salah dengan kita? Sembari bersama sembari mengenal Mengenal membuat kita semakin jauh Ada yang salah dengan kita? Mungkin kita hanya tertutup keegoisan semata Atau kita memang tidak ingin mengetahui jati diri kita masing-masing?  Kita berawal dari senja yang menyejukkan mata Lalu kita berakhir seperti malam gelap yang hilang tanpa senja Vdy. SKA, 2772016
Kata Harmonis, yang dulunya pernah tak harmonis Sebaris kata harmonis untuk memulai canda itu Memang sebelum kata itu kita tidak pernah harmonis Melihat bingkai masa lalu saja aku sudah muak Apa yang kau mau dariku Itu bukan yang aku mau,  bahkan aku ingin kau menghilang saja Kembalipun aku tak menginginkamu Itu sekelumit apa yang pernah kau lakukan kepadaku dulu. Bukannya aku membalasmu Mungkin karma Tuhan sudah berlaku. Vidya - SKA, 22072016

Deruan Hujan

Deruan hujan malam ini, sungguh ia tak menyalahkanmu. Atas segala yang telah kau alami Penyesalan, pesakitan, dan harapan yang tak bisa kau wujudkan. Hanya saja, ia akan membantu menghapus lukamu.  Deruan itu, suara itu bagaikan tangisan yang ingin kau lepaskan. Ia menemanimu. Mulailah menangis, dan kau akan merasakan deruan itu. Perlahan ia menenangkanmu Perlahan ia menyaput lukamu Dan Perlahan ia memelukmu Kala deruan itu menghilang, pertanda lukamu telah dibawanya pergi. Elma Vidya - Surakarta, 21 July 2016

Rindu Secukupnya

Jika rindu bagaikan angin yang berhembus kencang, Aku ingin kau menjadi selimut penghangatku Kau terlalu membuatku dingin  Ketika kau masuk dalam pikiranku Aku hanya ingin sekali saja kau ada dipikiranku Bukan malah berhari-hari Andai aku tak mencintaimu,  Pasti aku sudah merinduimu secukupnya. TA, 1 July 2016

Apa kabar piano tua punya ayah? Sudah lama aku tak mendengarnya

Piano Tua Melodi seakan bercerita tentang seorang pria tua Alunan damai begitu ia memainkannya Piano tua bercerita, sudah lama ia tak dimainkannya Namun, tetap saja pria itu diam Hanya Tuhan yang tahu dimana ia sekarang Karena Tuhan lebih mencintainya Piano tua telah menjadi saksi Bahwa kebahagiaan setiap alunannya, Kini telah menghilang bersama nad-nada kenangan

Fantasimu

Tengah malam telah lewat hingga larut yang kian pekat.  Aku cuma ingin bermain kedalam fantasiku untuk bertemu denganmu.  Bagaimana mungkin aku bisa bertemu denganmu selain aku masuk kedalam fantasimu? Kedalam imaji kita? Aku cuma rindu. Itu saja Surakarta, 10 Mei 2016

Sebuah Bayangan

Antara aku, kamu , dan bayanganmu . Kupersilahkan kau untuk membuka pintu- rumahku yang sudah kututup cukup lama. Kuberikan jamuan senyum untukmu. Ku harap kau bisa lebih lama tinggal,  Karena kau adalah tamu pertama yang mampu membuka pintuku setelah sekian lama terkunci oleh kesakitan. Nyatanya. Kau tak bisa lama tinggal. Bahkan kau pergi tanpa permisi.  Surakarta, 26 Mei 2016

Adalah Air Mata

Aku adalah air mata yang tertahan di pelupuk binar kesedihan. Aku telah banyak belajar pada sunyi , bagaimana menyimpan sendiri.  Kebahagiaanku adalah melihat mereka tersenyum , walau sesungguhnya aku ingin seperti mereka. Kau boleh menerkaku dengan angan-anganmu, tetapi aku tak akan pernah memberitahumu tentangku . Agar ketika aku kecewa aku tak akan pernah menyalahkanmu. Ayah mengajarkanku tentang keramahan, kepada siapapun, dan untuk siapapun. Karena itulah aku tak suka berpura-pura. Aku akan menghargai orang yang menghargaiku dan aku akan mencintai orang yang mencintaiku. Aku suka diperhatikan, tapi aku lebih suka memerhatikan . Bagiku membuat sekelilingku tersenyum lebih dari cukup. Walau pada akhirnya aku harus kecewa atau bahkan terluka. Diam adalah penolong utamaku, walau pada akhirnya butiran air menetes dalam pipiku. Jatuh cinta? Bagiku cinta pertama hanya teruntuk ayah tercintaku. Beliau kini sudah tenang disana.  Sakit Hati? Itu hanya alasan harapan ya...

Denting Detik

00.0 1 oktober telah terlewat Inginku melukis setiap detiknya Berharga untukku, tak berharga untukmu Tak ada yang spesial, hanya saja aku ingin merasakan kerinduan di Purnamaku Berharap setiap detiknya memberikan senyuman Karena hatiku tlah mati untuk sekedar berpura-pura Aku bahagia?  Tidak, aku hanya sedang menunggunya

Kita Hanya Sebuah Doa

Bukan, Ini bukan yang diharapkan Aku tak pernah menuntut sempurna, tapi mengertilah aku yang kini ada. Aku cukup mengerti apa yang kau inginkan Tapi hanya saja aku terlalu lelah mengerti Mengerti dan ingin dimengerti ? Tidak, kau hanya ingin dimengerti Mungkin sampai aku terlalu cukup mengerti Aku akan  tersenyum dan kembali menjadi diriku sendiri. Surakarta, 01 Januari 2015